Handarbeni-nya tukang martabak.

Belakangan Paijo rajin sekali ngobrol sama pedagang makanan yg berjualan menggantung hidupnya di sepanjang jalan swering. Gak tau kenapa, mungkin karena gak ada kerjaan aja sepulang ngantor. Nonton barang sampah (tivi), paling acaranya sinetron klenik-relijius!!! Paijo paling benci acara begitu…

“Mending tidur aja….” kata Paijo suatu hari.

Kali ini Paijo ngobrol sama duo-tukang-martabak. Paijo suka sekali menikmati martabak bikinan mereka. Karena di ternate, merekalah satu2nya orang yg menjual martabak telur seperti itu. Martbak yg biasanya penuh minyak, mereka buat sehingga minim sekali… Mereka hanya menaruh margarine utk menggoreng martabak. Itupun supaya martabaknya tidak gosong. Jadi inget roti bakar bandung. Nah, tadi malam Paijo ngobrol sama mereka.

Ternyata kisah mereka hingga bisa sampai di pulo ternate sangat menakjubkan. Bagaimana tidak, dua tahun lalu mereka berdua masih tercatat sebagai mahasiswa. Yang kakak di UGM, sedang adiknya di UMY. Dan mereka masing-masing mempunyai mobil yang mereka beli 2 hari setelah tiba di yogyakarta dari kampung mereka di payahkumbuh, sumatera barat sana…

Kok jualan martabak? Konon mereka terpaksa banting setir berjualan martabak gara-gara kebangkrutan usaha Ayah mereka saat krisis multi dimensi menggoncang Indonesia di tahun 90-an. Yang diperburuk dengan sakitnya sang Ayah. Ludeslah harta mereka hingga terpaksa menjual mobil dan berhenti kuliah. Sebagai orang kere tiban (orang miskin tiba-tiba) tentu saja mereka shock. Bahkan bukannya dibantu atau merasa kasihan, kerabat, tetangga, sanak saudara dan rekan semuanya meninggalkan keluarga mereka. Yah, begitulah. Ada uang banyak teman, tak ada uang jangan cari teman.

Hampir setahun kakak-beradik itu patah hati. Mereka sangat terpukul. Rencana seusai kuliah mereka pun berantakan. Tapi mereka sadar, mereka harus bangkit.

“Kita pikir kalo kita memang sayang sama harta kita, saat kehilangan kita bukan menangis sejadi-jadinya, tapi malah harus merasa tercambuk untuk kembali berjuang… Dulu kita gak pernah merasa kaya karena kami gak pernah merasa kekurangan, ini hidayah mas!!!” Kata sang kakak.
“Hidayah gimana, da?” tanya Paijo memancing.
“Lha sekarang kami jualan martabak sehari pegang uang seratus ribu rupiah saja hari sudah cerah sekali!!! Dulu seratus ribu itu gak ada nilainya!!! Subhanallah!! Allah itu memang baik….”

Weh! Orang-orang ini!!! Dikasih musibah kemiskinan malah memuji Tuhan lho. Apa gak elok? Indah bukan? Gusti… maafkan Paijo yang suka menggerundel, mengeluh dan iri dengan gaji rekan2 yang di MTO! suka mengeluh penghasilan kecil tapi biaya hidup di ternate.. Padahal belum tentu juga Paijo bakal bahagia jika punya duit banyak.

Matur nuwun, Gusti denga segala kerterbatasan yang ada, Kau ajari aku untuk belajar bersyukur. Jangan-jangan banyak orang yang tidak punya kesempatan belajar seperti saya lho… Wes, pokoke matur nuwun, Gusti!!!

You don’t know what you got, until it’s gone!!! dan jangan takut kehilangan karena sesungguhnya kita tidak memiliki apa-apa. kenapa takut hayooo? Rasa Handarbeni alias memiliki itu rak secukupnya saja tho? akur?

nuwun…

Handarbeni: rasa memiliki

2 Responses to “Handarbeni-nya tukang martabak.”

  1. Godotika Says:

    Semua peristiwa pasti ada hikmahnya, ya tho?

    Yang kuat yah ngadepin semuanya. Insya Allah, abang gak sendirian. Di sini saya juga mendoakan abang dan kita.

    Maaf bila saya sering melakukan kesalahan, karena saya juga manusia. Tolong bimbing saya.

  2. piko Says:

    ooh.. handarbeni tu rasa memiliki.. trus kalo nuwun, rak, wes, dll tu apa?

    -ambil akhirat, tapi jangan lupakan dunia. dan sebaliknya-

Leave a Reply